Showing posts with label penciptaan. Show all posts
Showing posts with label penciptaan. Show all posts

Saturday, June 18, 2011

GENDER DALAM PANDANGAN MASYARAKAT

GENDER DALAM PANDANGAN MASYARAKAT

Sebenarnya tidak ada kata atau istilah gender dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus bahasa Inggris, tidak secara jelas dibedakan arti kata sex dan gender, keduanya diartikan sebagai jenis kelamin. Diperlukan analisis kritis untuk memahami persoalan – persoalan ketidakadilan gender yang menimpa perempuan. Hal ini disebabkan adanya kaitan erat antara perbedaan gender dan ketidakadilan gender dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara lebih luas.

Gender merupakan konsep social dan budaya yang membedakan peran antara laki – laki dan perempuan menurut kedudukan, fungsi, dan peranan masing – masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Konsep gender adalah pembedaan sifat, sikap, dan peran yang melekat pada laki – laki dan perempuan yang dibentuk oleh faktor sosial maupun budaya, sehingga lahir beberapa anggapan tentang peran social dan budaya laki – laki dan perempuan. Perempuan dikenal sebagai makhluk yang lemah lembut, cantik, dan emosional., sedangkan laki – laki dianggap kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sifat – sifat tersebut dapat dipertukarkan dan berubah dari waktu ke waktu.

Seks sendiri memiliki pengertian sebagai perbedaan jenis kelamin antara laki – laki dan perempuan secara biologis yang memiliki perbedaan dan ciri – ciri sendiri (memiliki fungsi – fungsi organism yang berbeda). Laki – laki memiliki fisik yang kuat, otot yang kuat, memiliki jakun, bersuara berat, memiliki penis, testis, sperma, yang berfungsi sebagai alat reproduksi. Perempuan mengalami masa menstruasi, memiliki perasaan yang sensitive, serta ciri – ciri fisik dan postur tubuh yang berbeda dengan laki – laki (bentuk pinggul yang lebih besar daripada laki – laki).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gender dan seks tidaklah sama. Gender merupakan pandangan masyarakat tentang perbedaaan sifat, sikap, peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki – laki dan perempuan yang dihasilkan oleh konstruksi social budaya. Sementara itu, seks adalah perbedaan organ biologis antara laki – laki dan perempuan.

Keberadaan masyarakat dalam budaya patriarkat di tengah kehidupan manusia ikut member andil dalam menempatkan laki – laki dan perempuan pada peran mereka masing – masing. Laki – laki dianggap lebih cocok dengan pekerjaan di luar rumah (public), sementara perempuan dianggap lebih cocok dengan pekerjaa rumah tangga (domestic).

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, perempuan masih mengalami diskriminasi dan berbagai bentuk ketidakadilan akibat bias gender. Walaupun kenyataan menunjukkan telah banyak perempuan memperoleh pendidikan yang sama dengan laki – laki dan peran perempuan yang makin besar dalam berbagai sektor, namun diskriminasi dalam berbagai bentuk masih dirasakan.

Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk, antara lain marginalisasi (peminggiran), subordinasi (anggapan tidak penting dalam pengambilan keputusan), dan stereotype (pelabelan negative). Misalnya, marginalisasi perempuan justru terjadi karena stereotype tertentu atas perempuan dan itu menyumbang kepada subordinasi, yang akhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan, ideologis dan visi perempuan sendiri.

Jika dikaitkan dengan topic mengenai perdagangan manusia,Nampak jelas bahwa masih banyak perempuan yang mengalami ketidakadilan. Banyak perempuan yang diperjualbelikan karena perempuan memiliki “nilai jual” yang lebih tinggi. Kebanyakan perempuan – perempuan yang diperjualbelikan ini dijadikan sebagai pekerja rumah tangga atau sebagai pekerja seks komersial. Namun keuntungan yang didapat oleh para perempuan ini tidak seberapa, karena telah banyak dipotong oleh para agen penyalurnya. Kerugian yang dialami para perempuan ini tidak hanya dari segi materi saja, tapi juga dari segi fisik. Tidak sedikit perempuan yang mendapat kekerasan fisik karena dianggap lalai saat sedang bekerja oleh para majikannya. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak diskriminasi yang dialami oleh perempuan saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://artikel.sabda.org/feminisme (Jumat, 5 Maret 2010. Pukul 15.57)

http://fib.ugm.ac.id/index.php?action=news.detail&id_news=57 (Jumat, 5 Maret 2010. Pukul 16.00)

http://www.iai-tribakti.ac.id (Jumat 5 Maret 2010. Pukul 16.15)

Perbedaan Emosional dan Intelektual antara Laki – Laki dan Perempuan

Perbedaan Emosional dan Intelektual antara Laki – Laki dan Perempuan


Manusia memiliki beragam potensi, antara lain potensi berpikir, spiritual, emosi, fisik, dan potensi sosial. Perempuan berbeda secara fisik dengan laki – laki, tetapi bukan berarti bahwa mereka berbeda secara intelektual.

Untuk menjawab kesetaraan antara laki – laki dan perempuan, ada pendapat yang mengatakan bahwa perempuan harus bekerja. Hanya melalui pekerjaan, perempuan dapat menentukan diri sendiri. Selain itu, perempuan perlu menjadi kaum intelektual sebab aktivitas intelektual lebih bersifat aktif dan menjadinya lebih sebagai subjek daripada objek. Hubungan antara pria dan wanita adalah perjalanan mencari kerja sama antara keduanya.

Laki – laki mempunyai karakter sangat agresif, independen, dapat menyembunyikan emosi, lebih objektif, tidak mudah terpengaruh, sangat menyukai pengetahuan eksakta, tidak mudah goyah terhadap krisis, lebih aktif, lebih kompetitif, jarang menangis, tampil sebagai pemimpin, lebih bebas berbicara, dan lain – lain. Sedangkan perempuan mempunyai karakter tidak terlalu agresif, lebih emosional, kurang menyenangi eksakta, mudah goyah menghadapi krisis, tidak umum tampil sebagai pemimipin, kurang bebas berbicara, lebih subjektif, tidak mudah terpengaruh, dan lain – lain.

Anggapan bahwa laki – laki lebih kuat, lebih cerdas, dan emosinya lebih stabil, sementara perempuan lemah, kurang cerdas, dan emosinya kurang stabil, hanyalah stereotip gender. Para feminin menunjuk beberapa faktor yang dianggap sebagai agen pemasyarakatan stereotip gender, antara lain pengaruh bahasa, suasana keluarga, kehidupan ekonomi, dan suasana sosial – politik. Padahal di sejumlah masyarakat primitif pernah ditemukan peran gender yang seimbang antara laki – laki dan perempuan. Begitu juga ahli genetika pun mengakui bahwa manusia adalah makhluk biologis yang mempunyai karakteristik tersendiri, perkembangan kesadaran dan kecerdasannya tidak semata – mata ditentukan oleh faktor genetika melainkan juga faktor lingkungan.

Akibat adanya stereotype ini banyak tindakan yang seolah – olah sudah merupakan kodrat. Misalnya, karena secara sosial budaya laki – laki dikonstruksikan sebagai orang yang kuat, sementara itu perempuan sudah terlanjur mempunyai label lemah lembut, sehingga rang tua dalam mendidik anak seolah – olah memang mengarahkan perempuan menjadi lemah lembut. Dengan demikian, perempuan, karena anggapan stereotype ini, sejak dini telah disosialisasikan untuk menekuni peran dalam pekerjaan rumah tangga. Di lain pihak, laki – laki tidak diwajibkan secara cultural untuk menekuni berbagai jenis pekerjaan domestic itu.

Dengan berkembangnya wawasan kemitrasejajaran berdasarkan pendekatan gender dalam berbagai aspek kehidupan, peran perempuan mengalami perkembangan yang cukup cepat. Namun, perlu dicermati bahwa perkembangan perempuan tidaklah “mengubah” peranannya yang “lama”, yaitu peranan dalam lingkup rumah tangga (peran domestic dan reproduktif). Oleh sebab itu, perkembangan peranan perempuan ini sifatnya menambah, dan umumnya perempuan mengerjakan peranan sekaligus untuk memenuhi tuntutan pembangunan.

DAFTAR PUSTAKA

http://artikel.sabda.org/feminisme (Jumat, 5 Maret 2010. Pukul 15.57)

http://fib.ugm.ac.id/index.php?action=news.detail&id_news=57 (Jumat, 5 Maret 2010. Pukul 16.00)

http://www.iai-tribakti.ac.id (Jumat 5 Maret 2010. Pukul 16.15)

Perbandingan Pandangan Kisah Penciptaan Manusia dari Segi Dunia Modern dan Segi Alkitab

Perbandingan Pandangan Kisah Penciptaan Manusia dari Segi Dunia Modern dan Segi Alkitab

Sampai abad 16, dunia masih mengakui pendapat yang berasal dari Ptolemaius (sentralitas dan immobilitas bumi) dan dari filsuf Aristoteles mengenai asal mula penciptaan bumi. Kombinasi pemahaman ini mendapat gangguan setelah muncul pendapat dari Copernicus, yakni De Revolutionibus Orbium Caelestium (1543). Copernicus mengemukakan bahwa sebenarnya bumilah yang beredar mengelilingi matahari sebagai pusat. Goncangan berikutnya muncul setelah adanya pendapat dari Charles Darwin dalam bukunya Origin of Species (1859) yang memberikan banyak sekali bukti-bukti tentang kebenaran teori evolusi (dari tumbuhan menjadi binatang dan kemudian mengalami perubahan menjadi manusia seperti sekarang ini). Darwin sendiri tidak secara khusus menolak adanya Pencipta ketika memperkembangkan teori evolusinya.

Darwin berpandangan bahwa dalam perjuangan hidup hanya hewan paling ulet yang paling mampu beradaptasi dengan keadaan iklim dan suasana sekitarnya. Turunan dari hewan yang biologis kuat ini terus menerus mengalami perubahan. Perubahan-perubahan yang berlangsung selama jutaan tahun itu akhirnya mengakibatkan timbulnya berbagai jenis binatang. Darwin merumuskan dalam satu pokok pandangan bahwa: semua jenis binatang berasal dari satu sel purba. Melalui buku keduanya, The Descent of Man. Darwin menerapkan teorinya melalui binatang yang paling maju, yaitu kera, yang mengalami proses perjuangan hidup, sedikit demi sedikit berubah mengarah menuju wujud manusia.

Pandangan Darwin langsung menantang keyakinan Kristen tradisional. Pertama, tantangan untuk pembacaan harfiah Alkitab: proses evolusi yang lambat dan gradual tidak dapat didamaikan dengan kisah penciptaan ilahi dalam tujuh hari (Kejadian 1). Kedua, tantangan langsung terhadap martabat manusia: secara tradisional kekristenan, manusia berbeda dengan makhluk lain secara fundamental karena jiwa mereka abadi, karena manusia diciptakan ”dalam citra Allah” dan berakal budi. Ketiga, tantangan terhadap desain dan tujuan ilahi: Darwin berhasil menunjukkan bahwa adaptasi dapat dijelaskan dengan proses variasi dan seleksi alam yang berjalan tanpa sosok tertentu. Keempat, tantangan terhadap gagasan Kristen tentang Allah: teori evolusi melalui seleksi alam akan memusnahkan setiap pembedaan sederhana dan mudah tentang apa itu ”natural” dan ”apa itu super natural”.

Ajaran Alkitab tentang penciptaan didasarkan atas wahyu ilahi, dan dapat dimengerti hanya dengan iman. Inilah yang membedakan pendekatan Alkitab dengan pendekatan ilmiah. Jadi Kejadian 1 tidak dapat dijadikan referensi ilmiah tentang bagaimana dunia dijadikan, melainkan untuk menunjuk bahwa Tuhan adalah Pencipta. Superioritas ilmu pengetahuan tidak menjamin bahwa realitas dapat diketahui secara lengkap, termasuk keberadaan dan kehadiran Allah Pencipta, Pemelihara dan Penopang seluruh ciptaan. Keterbukaan dan penghargaan terhadap kebenaran ilmu pengetahuan dalam menyelidiki alam semesta, memperbesar penghargaan kita terhadap karya tangan Allah yang kreatif dan mengagumkan.

Daftar Pustaka

Hadiwijono, Harun. Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.

http://www.sabdaspace.com/teori_evolusi_doktrin_kreasi

Friday, June 17, 2011

Penciptaan

Penciptaan

Seperti ada tertulis dalam Alkitab bahwa pada mulanya bumi belum berbentuk, kosong, dan gelap gulita. Dari tidak ada menjadi ada, dari yang belum berbentuk menjadi berbentuk, dan dari kosong menjadi berisi. Allah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya hanya dalam jangka waktu 6 hari. Semua yang diciptakanNya itu baik, berguna, dan indah. Pada hari keenam, Tuhan menciptakan manusia serupa dengan gambar dan rupaNya. Melalui hal ini dapat diketahui bahwa ada unsure – unsure tertentu yang Allah ciptakan dalam diri manusia untuk menjadi makhluk mulia melebihi ciptaan Tuhan lainnya. Unsure – unsure tersebut misalnya adalah pikiran, spiritualitas, dan hal – hal lain yang menyebabkan manusia bisa berpikir, memiliki hikmat, mengasihi, bersekutu dengan Tuhan, dan lain – lain.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak teori – teori yang bermunculan mengenai proses terbentuknya manusia. Teori yang paling terkenal ialah yang berasal dari Charles Darwin, seorang ahli zoologi, yang mengatakan bahwa manusia yang terbentuk seperti sekarang ini merupakan hasil evolusi berjuta – juta tahun yang lalu dari sebuah binatang.

Pandangan Darwin langsung menantang keyakinan Kristen tradisional. Pertama, tantangan untuk pembacaan harfiah Alkitab: proses evolusi yang lambat dan gradual tidak dapat didamaikan dengan kisah penciptaan ilahi dalam tujuh hari (Kejadian 1). Kedua, tantangan langsung terhadap martabat manusia: secara tradisional kekristenan, manusia berbeda dengan makhluk lain secara fundamental karena jiwa mereka abadi, karena manusia diciptakan ”dalam citra Allah” dan berakal budi. Ketiga, tantangan terhadap desain dan tujuan ilahi: Darwin berhasil menunjukkan bahwa adaptasi dapat dijelaskan dengan proses variasi dan seleksi alam yang berjalan tanpa sosok tertentu. Keempat, tantangan terhadap gagasan Kristen tentang Allah: teori evolusi melalui seleksi alam akan memusnahkan setiap pembedaan sederhana dan mudah tentang apa itu ”natural” dan ”apa itu super natural”.

Ajaran Alkitab tentang penciptaan didasarkan atas wahyu ilahi, dan dapat dimengerti hanya dengan iman. Inilah yang membedakan pendekatan Alkitab dengan pendekatan ilmiah. Jadi Kejadian 1 tidak dapat dijadikan referensi ilmiah tentang bagaimana dunia dijadikan, melainkan untuk menunjuk bahwa Tuhan adalah Pencipta. Superioritas ilmu pengetahuan tidak menjamin bahwa realitas dapat diketahui secara lengkap, termasuk keberadaan dan kehadiran Allah Pencipta, Pemelihara dan Penopang seluruh ciptaan. Keterbukaan dan penghargaan terhadap kebenaran ilmu pengetahuan dalam menyelidiki alam semesta, memperbesar penghargaan kita terhadap karya tangan Allah yang kreatif dan mengagumkan.

Manusia diciptakan dalam kondisi bersih tanpa dosa. Tetapi pada kehidupan sehari – harinya manusia tidak bisa luput dari dosa. Inilah yang menyebabkan rusaknya citra Allah dalam diri manusia. Sehubungan dengan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, manusia hendaknya mempersiapkan sebaik mungkin. Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai umat yang percaya kepadaNya. Salah satunya dengan mempersiapkan hati kita agar kita siap dan telah menjadi manusia yang baru dalam iman ketika IA datang kembali.