Saturday, June 18, 2011

Kebudayaan Indonesia - Perkembangan dan Dampak Musik Dangdut Bagi Remaja di Jakarta

Perkembangan dan Dampak Musik Dangdut Bagi Remaja di Jakarta


Bab I

Pendahuluan

a. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki cipta, rasa, karsa, dan karya. Karena manusia memiliki kemampuan untuk berfikir, maka manusia dapat menciptakan kebudayaan. Salah satu unsur penting dalam kebudayaan adalah kesenian. Di antaranya jenis kesenian yang ada, musik merupakan produk budaya yang tertinggi atau merupakan keindahan seni yang tertinggi. Musik dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat walaupun bukan merupakan dasar eksistensi hidup manusia, akan tetapi musik adalah sebagai dasar sosial dan cultural masyarakat. Di Indonesia berkembang berbagai warna dan aliran seni musik dan seni suara. Lagu-lagu dangdut adalah salah satu hasil karya masyarakat Indonesia.

Dalam perkembangannya lagu-lagu dangdut dipandang mampu mengangkat fenomena sosial kemasyarakatan menjadi sebuah karya seni. Sejalan dengan perkembangannya musik dangdut tidak terlepas dari pro dan kontra. Musik dangdut sering dilecehkan, dicap imitasi, tanpa identitas, tidak bermutu. Tetapi, musik ini paling mengena di hati rakyat kecil, lapisan masyarakat yang masih hidup tanpa harapan. Musik dangdut berkisah tentang perjuangan hidup, hak asasi manusia, perbedaan status social dan sebagainya. Musik dangdut tidak hanya enak dinikmati tetapi juga memiliki kekuatan menyoroti kehidupan social masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan remaja ibukota Jakarta.

b. Permasalahan

Dewasa ini lagu-lagu dangdut telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang mendalam terutama terhadap dampak positif maupun dampak negatif dari lagu-lagu tersebut sebagai wujud musik rakyat masa kini. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah lagu-lagu dangdut pada umumnya selalu mengungkapkan berbagai masalah sosial manusia seperti ungkapan kesulitan hidup, putus cinta, dan sebagainya. Sangat jarang didengar adanya lagu-lagu dangdut yang dapat membangkitkan semangat atau yang mampu meningkatkan rasa cinta kepada tanah air. Dengan kata lain pencipta lagu dangdut belum memikirkan aspek idealism dan hanya mementingkan keuntungan materi.

c. Tujuan

Tujuan utama dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberi informasi dan menambah pengetahuan pembaca tentang musik dangdut dan pengaruhnya terhadap kehidupan remaja di Jakarta.

d. Metode

Untuk memperoleh data dan informasi yang akurat, penulis menggunakan metode studi kepustakaan yakni dengan menelaah berbagai buku, artikel, media internet, serta tulisan lain yang memiliki relevansi dengan objek penelitian.

Bab II

Isi

a. Definisi Musik Dangdut

Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang) musik India. Putu Wijaya awalnya menyebut dalam majalah Tempo edisi 27 Mei 1972 bahwa lagu Boneka dari India adalah campuran lagu Melayu, irama padang pasir, dan "dang-ding-dut" India. Sebutan ini selanjutnya diringkas menjadi "dangdut" saja, dan oleh majalah tersebut digunakan untuk menyebut bentuk lagu Melayu yang terpengaruh oleh lagu India.

Musik dangdut banyak dipengaruhi oleh unsur - unsur kebudayaan asing seperti Cina Betawi, India, Arab, Barat dan Melayu. Namun ciri - ciri khusus dari suatu jenis musik tetap dibutuhkan untuk membuktikan identitasnya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka untuk menetapkan suatu terminologi atau pengertian tidaklah mudah. Karena itulah definisi dangdut masih selalu dicari-cari oleh para pakar musik dan hingga saat ini belum ada satupun definisi tentang dangdut yang diakui oleh seluruh lapisan masyarakat. Berikut beberapa definisi dangdut menurut beberapa musisi atau seniman dan pakar budaya yang menyoroti musik dangdut:

Remy Silado, seorang wartawan dan pengamat musik menyatakan, “Berkakinya dangdut sekarang layak dianggap sebagai suatu cirri dan bentuk musik hiburan, atau musik pop yang khas Indonesiawi. Artinya, dangdut sebagai musik pop, boleh dikatakan perluasan eksistensi pengembang-biakan, persemaian dari Cina Betawi, Arab, Barat dan India plus kepribadian Melayu yang bercampur aduk menjadi Indonesia.”

b. Sejarah Musik Dangdut

Aliran musik Dangdut lahir setelah ajaran Islam masuk ke Indonesia yang sudah bercampur dengan aliran musik India. Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang hanya di Indonesia. Bentuk musik dangdut ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (cengkok dan intonasi)

Musik ini mulai tumbuh dan berakar sekitar tahun 1940. Musik ini dipengaruhi oleh unsur musik India yang diambil dari alat musiknya yang bernama Tabla atau musik yang menggunakan gendang.Sedangkan cengkok dan harmonisasinya merujuk ke musik Arab. Akhirnya dipadukan oleh pengaruh musik barat yang mulai marak di akhir tahun 1960-an dengan menggunakan gitar listrik..Dangdut bisa dikatakan lebih matang sejak tahun 1970-an.Ciri khas musik dangdut diiringi oleh gendang suling dan joget yang gemulai.

Gaya music dangdut sangat popular dan memiliki pengaruh sangat besar pada periode Orde Baru, khususnya tahun 1975-1981. Music ini didominasi oleh denyut irama tarian (joget), dan ditujukan ke mereka yang berusia muda, yaitu para remaja. Cirri tersendiri dalam membawakan warna music ini yaitu cengkokannya, yang disebut blenggo. Dari lirik dan melodinya berkesan mendayu-dayu dengan cengkok-cengkok yang penuh lekukan memanjang pada akhir kalimatnya.

Istilah dangdut muncul pertama kali tahun 1972 atau 1973. Istilah music dangdut ini merupakan pembentukan kata yang menirukan bunyi gendang, yaitu dang dan dut, dengan suatu ungkapan dan perasaan yang menghina dari masyarakat lapisan atas (William H. Frederict, 1982).

Semangat dangdut bermula pada awal periode colonial. Pada abad 19, pengaruh-pengaruh lain turut diserap. Pada sekitar tahun 1920-an, ensamble Cina Betawi muncul dan dikenal dengan nama gambang kromong, yang merupakan percampuran instrument dan melodi Cina, Sunda, Maluku, dan Portugis. Tak lama setelah itu, ada awal abad 20 musik keroncong diperkenalkan.

Pada tahun 1940-an, keroncong dikenal dengan sebutan umum orkes Melayu (William H. Frederict, 1982), atau dapat dikatakan sebagai awal music gambus, dengan irama Melayu asli (Husein Banwafie, 1990). Pada tahun 1950-an lahir berbagai eksperimen music Melayu yang dimodernisasikan dan banyak dipengaruhi oleh orchestra barat dan irama samba serta rumba. Pada tahun 1960-an berbagai reaksi mulai muncul. Keroncong yang dimodernisasikan sering Nampak lebih elegan dan mendapatkan inspirasi dari luar negeri. Kondisi ini menjadikan para musisi mulai mencari suatu bentuk yang lebih asli, dan mereka menemukannya dalam orkes Melayu tradisional. Seorang penyanyi dari Jakarta bernama Ellya Kadam mengembangkan suatu gaya nyanyian pada produk orkes Melayu dan menciptakan suatu irama dan suara baru (dengan instrument India, Arab, dan gendang Indonesia, suling bamboo) yang meminjam dari music dalam film-film India. Ia memasukkan suatu dinamisme dan sensualitas yang unik kedalam musiknya, dan denyutannya dalam membawakan lagu “Boneka dari India” (syairnya ditulis oleh Husein Banwafie pada tahun 1956). Lagu ini dapat dikatakan sebagai lagu dangdut pertama.

Di akhir tahun 1960-an, bermunculan berbagai kelompok music yang mengadakan inovasi terhadap music. Secara mendasar, mereka memasukkan beberapa elemen music Melayu Deli dan keroncong tradisional dalam tarian mereka. Tema-tema lagu dangdut berupa kenyataan hidup masyarakat sehari-hari. Banyak yang terasa lugas, tanpa ditutupi, hingga bias diterima khalayak dan akan terasa lebih dekat dengan masyarakat (Ukat, 1990). Mulai tahun 1973 Rhoma Irama dengan kelompok Sonetanya mengadakan perombakan syair, maupun instrument music dangdut, dengan berbagai instrument music elektronik. Perombakan itu dilakukan dengan tujuan pembangunan mental spiritual dan juga sekaligus sebagai sarana dakwah. Lagu-lagu yang diciptakannya sangat bergantung pada situasi dan kondisi masyarakatnya. Dengan demikian music tidak hanya berfungsi sebagai pelepas lelah dan hiburan saja, juga sebagai media untuk menyampaikan pesan.

Dangdut sangat popular dan sangat berbeda dengan bentuk budaya modern lain di Indonesia. Secara sederhana ia tampaknya sangat berkaitan dengan selera popular yang sangat luas. Perjalanan musik Dangdut mengalami perubahan yang signifikan dari masa ke masa. Kini pada akhirnya Musik Dangdut sudah sangat terkenal tidak hanya di Indonesia namun sudah mencapai mancanegara.

c. Bangunan Lagu

Meskipun lagu-lagu dangdut menerima berbagai unsur musik lain secara mudah bangunan sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada beberapa lagu kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja. Lagu dangdut juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop. Intro dapat berupa vokal tanpa iringan atau berupa permainan seruling, selebihnya merupakan permainan gitar atau mandolin. Panjang intro dapat mencapai delapan irama. Bagian awal tersusun dari delapan birama, dengan atau tanpa pengulang. Jika terdapat pengulangan, dapat disela dengan suatu baris permainan jeda. bagian ini biasanya berlirik pengantar tentang isi lagu, situasi yang dihadapi sang penyanyi. Lagu dangdut standar tidak memiliki refrain, namun memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik. Bagian kedua biasanya sepanjang dari dua kali delapan birama dengan disela satu baris jeda tanpa lirik. Di akhir bagian kedua kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu. Bentuk bangunan lagu dangdut secara umum adalah: A - A - B -A, namun dalam aplikasi kebanyakan memiliki urutan menjadi seperti ini:

Intro - A - A - Interlude - B (Reffrain) - A - Interlude - B (Reffrain) – A

Stuktur lagu:

1. Introduksi : solo vocal atau instrumental

2. Lagu utama : tema lagu utama music dangdut

3. Selingan : disebut interlude, berisi permainan improvisasi instrumental, sebagai pengantar tema lagu utama dengan tema kedua.

4. Tema lagu kedua : disebut refrain, berisi kontra melodi dari tema lagu utama\

5. Koda : penutup lagu, berupa solo vocal atau permainan instrumental

d. Karateristik Musik Dangdut

· Musik urban

· Musik penghibur dan komersial

· Instrumentarium, sistem nada, bentuk dan struktur musiknya berdasar orientasi musik Melayu

· Teknik penggarapan dan permainan, idiom, gaya dan ekspresi musikalnya khas indonesia

e. Interaksi dengan musik lain

Interaksi dangdut dengan musik lain disini diartikan bahwa awal mula interaksi dangdut dengan musik lain yang menyebabkan terjadinya bentuk baru dalam musik dangdut, berawal dari dangdut itu sendiri. Seiring dengan perkembangan dangdut, masuk lah jenis - jenis musik lain. musik - musik ini pun lalu bercampur dengan musik dangdut yang pada akhirnya menyebabkan bentuk baru dalam musik dangdut. Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan mempengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut.

Musik rock, pop, disko, house berasimilasi dengan baik dalam musik dangdut. Aliran campuran antara musik dangdut & rock secara tidak resmi dinamakan Rockdut. Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin.

Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela.

f. Dampak Positif dan Negatif Dangdut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran music dan lagu dangdut membawa dampak atau pengaruh tersendiri terhadap masyarakat penggemarnya, khususnya bagi remaja kota Jakarta, baik yang positif maupun negative. Sangat tidak adil apabila kita hanya menafsirkan music atau lagu dangdut sebagai bentuk seni yang “kampungan” atau “tidak bermutu”.

a. Dampak Positif Dangdut.

Beberapa lagu dangdut mempunyai makna atau mengandung pesan-pesan moral dan pendidikan, lagu-lagu tersebut mengajarkan atau menasehati agar remaja tidak terlena oleh pengaruh buruk yang diakibatkan kemajuan teknologi. Banyak lagu dangdut yang bertema sosial dan mengangkat realita kehidupan ketika orang-orang terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa, ketika melihat ketidakadilan dan ketidakmanusiaan.

Lagu-lagu tersebut bisa mewakili mereka dalam berteriak dan menyuarakan hati nuraninya yang mencurahkan sisi hitam masyarakat kelas bawah. Kiat menyadarkan masyarakat terutama generasi muda, juga banyak dijumpai dalam lirik lagu dangdut yang mengangkat masalah perjudian yang semakin marak dalam berbagai bentuk.

Selain menggambarkan permasalahan masyarakat, melalui lagu-lagu dangdut banyak kita jumpai kebijaksanaan untuk hidup bermasyarakat secara baik bahkan tidak jarang nasehat untuk kerukunan hidup dan kehati-hatian manusia dalam menentukan masa depannya. Dampak positif lainnya adalah lahirnya kreatifitas untuk mencoba menerjuni bidang yang satu ini.

Lagu dangdut tidak mempengaruhi perilaku penggemarnya. Berbeda dengan pengagum fanatic jenis music lain yang bisa ditandai dengan munculnya model rambut cepak dan baju dan kalung rap.

b. Dampak Negatif Dangdut

Sesuai dengan tempat lahirnya, music dan lagu dangdut memang tumbuh subur dikalangan masyarakat, membawakan aspirasi mereka, menyuarakan hati mereka. Maka pantas apabila liriknya selalu berkisar pada persoalan yang menjadi bagian hidup sehari-hari. Nilai-nilai kualitas dari sejumlah lagu dangdut kurang diperhatikan. Sangat sulit untuk menemui nilai lebih dari kreatifitas seniman dangdut sekarang. Selain itu, dampak negative dari lagu dangdut adalah :

1. Munculnya pola hidup atau kebiasaan untuk memburu tempat-tempat yang diketahui akan menggelar pertunjukkan music dangdut.

2. Timbulnya gaya hidup yang baru, yakni kesenangan memasuki rumah hiburan (pub) yang khusus menyajikan music dan lagu dangdut.

3. Meskipun tidak seluruhnya, sebagian dari pengagum fanatic dangdut, seringkali memanfaatkan kesempatan menonton pertunjukkan music ini sambil meminum minuman keras (mabuk, teler)

4. Timbulnya peniruan di kalangan remaja terhadap penyanyi idola. Hal ini menyebabkan matinya kreatifitas dan buntunya inovasi untuk membentuk jati diri

5. Banyak lagu-lagu dangdut yang mengandung pengertian sensual dibawakan oleh para pengamen remaja di berbagai tempat dan menyebabkan mereka matang sebelum waktunya.

Bab III

Penutup

Dari hasil pembahasan makalah pengaruh musik dangdut dalam kehidupan masyarakat Indonesia ini dapat dilihat bahwa musik dangdut bukanlah musik asli dari Indonesia melainkan musik melayu dan terdapat pengaruh dari India. Oleh karena itu musik dangdut di Indonesia merupakan wujud fisik budaya luar yang diterima dengan baik di Indonesia. Memang pada awalnya musik dangdut kurang diminati bahkan dianggap kampungan, tetapi seiring perkembangan jaman, musik dangdut dapat diterima dengan baik oleh seluruh kalangan masyarakat di Indonesia. Peminat musik dangdut yang bergerak naik, baik dari segi penggemar maupun penampilannya, bahkan saat ini para penikmat mulai melakukan pemberian nilai diantara penyanyi/pemusik dangdut yang sedang terkenal. Penilaian ini menggambarkan bahwa musik dangdut di Indonesia telah mendapat perhatian seluruh masyarakat Indonesia, khususnya remaja di Jakarta.

Jadi dapat disimpulkan bahwa musik dangdut sekarang ini sangat berpengaruh bagi kehidupan remaja di Jakarta. Dapat kita amati keadaan di lingkungan sekitar kita yang banyak menyukai musik dangdut, dapat dilihat melalui media cetak dan elektronik seperti koran dan televisi yang saat ini sering menampilkan tayangan musik dangdut. Bahkan sering dikatakan bahwa musik dangdut merupakan budaya rakyat Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda janganlah malu mengakui musik dangdut sebagai budaya yang berkembang di Indonesia.

Daftar Pustaka

Federic, William H,1982, Rhoma Irama and the Dangdut Style Aspercts of Contemporary Indonesia Populer Culture, Indonesia, No. 34.

Lohanda, Mona,1983, Dangdut : "Sebuah Pencarian Identitas" (Tinjauan kecil dari segi perkembangan historis), dalam buku Seni Dalam Masyarakat Indonesia Bunga Rampai, PT. Gramedia, Jakarta.

Nirza, M.

1994 "Dari Perjalanan" (serial dangdut) Tabloid Citra, Jakarta, Juli

1994 "Kebesaran P Ramlee digusur oleh S. Efendi" (serial dangdut), Tabloid Citra, Jakarta Juli

Rusnandar, Roni,1993, "Dangdut Remix dan Budaya Pasar", Harian Pikiran Rakyat, Baung, Juni

Sanusi, Bachrawi,1993, "Lagu Dangdut Umumnya Ungkapan Jiwa, Kesulitan Hidup, Putus Cinta, dan lain-lain", Harian Berita Buana, Jakarta, Juni

No comments:

Post a Comment